DIKLAT AKTING FILM DG 11 SUTRADARA TOP
SERIUS INGIN JADI AKTOR FILM/SINETRON TERKENAL, bukan FIGURAN? Ikuti Diklat Akting sistem dengan materi pelajaran akting 39 jam,dg 11 sutradara top: KARDY SYAID , IRWAN SIREGAR, ACA HASANUDDIN, SURYA LAWU SAPUTRA, H.FEBRIYONO, VIKTOR HERMANTO, JEREMIAS NYANGOEN, JANAIM RACHMAT, SOFIYAN JOEL, DENI PUSUNG & EKO DARMAWAN.
AKSINEAS diprakarsai & didirikan bulan April 2007 oleh Kardy Syaid (alumni Fakultas Film & Televisi Institut Kesenian jakarta/IKJ Angkatan 1984/ sutradara/Penulis Skenario/Pimpinan Produksi & Produser, sejak 1992), untuk mengantisipasi minimnya pemain film/sinetron yang punya dasar AKTING dan siap pakai dan masih langkanya Penulis Skenario.
PENDIDIKAN & LATIHAN AKTING FILM/SINETRON
Banyak pemain yang memberanikan diri melamar atau ikut casting ke berbagai PH hanya dimodali tampang ganteng atau wajah cantik tanpa “skill” dan “basic acting” yg memadai atau hanya bermodalkan keberanian atau “bonek”. Akibatnya, banyak sutradara, asisten sutradara ataupun Pimpinan Produksi yang mengeluh disuguhi pemain yang rada “bodoh” dan buta ilmu akting. Buktinya dapat dilihat, pemain “bonek” tersebut hanya satu atau dua kali saja tampil, setelah itu hilang tak tahu rimbanya.
Banyak juga calon pemain yang rela membeli peran kepada “calo akting” yang banyak berkeliaran dimana-mana, mencari nafkah dengan cara tercela, tipu sana-tipu sini. Mereka rela membeli peran dengan nilai jutaan bahkan puluhan juta, agar bisa akting di depan kamera. Pemain pro harus mendapat “upah” dari hasil keringatnya, bukan harus membayar. Sangat disayangkan, calon pemain seperti itu hanya ingin “ngetop” dengan mental “karbitan” tanpa mau bersusah payah dengan mempersiapkan diri dengan ilmu akting yang cukup. Akting bukanlah sekedar hobi, tetapi adalah salah satu cabang kesenian yang bernilai “keilmuan” & “keprofesionalan”, seperti layaknya profesi dokter, insinyur, IT, guru, tentara dan sebagainya.

Pemain yang tidak punya bekal atau dasar ilmu akting, biasanya akan cepat dibuang karena mempersulit lancarnya produksi dan membuat biaya produksi membengkak karena “lelet atau telmi” sehingga sutradara harus melakukan “retake” berkali-kali. Satu hari shooting yang seyogianya bisa menyelesaikan 8 halaman skenario (rata-rata 8-10 scene), tidak bisa dipenuhi, karena pemain tidak siap menghayati dan memainkan skenario secara benar dan sempurna.
Banyak sekolah/kursus/diklat akting di Jakarta atau dikota-kota besar Indonesia, hanya sekedar cari duit, yang pengajarnya yang biasanya satu atau dua orang saja dan tidak dibekali ilmu akting memadai, baik secara “akademis” ataupun “pengalaman sebagai sutradara film/sinetron”. Mereka tidak memahami kebutuhan seorang pemain film/sinetron, bagaimana seorang calon pemain dipersiapkan ketika harus BERAKTING di depan kamera. Mereka mengajarkan akting kepada orang hanya untuk cari makan, bukan karena “idealisme”
AKSINEAS ingin menyiapkan bibit unggul dalam bidang “ke-aktoran & sineas” dengan membuat terobosan dalam menyiapkan calon aktor film yang memang dididik untuk akting di depan kamera “ACTING for CAMERA”, bukan “ACTING for STAGE.” Tidak tanggung-tanggung, AKSINEAS mengerahkan 15 orang sutradara film/sinetron, 90% di antaranya, lulusan INSTITUT KESENIAN JAKARTA (IKJ) yang telah berpengalaman belasan bahkan puluhan tahun menangani film atau sinetron. Setiap sutradara, ditugasi Aksineas mengajari satu cabang ilmu yang diperlukan oleh seorang calon pemain. Mereka adalah: Irwan Siregar, Nurhadie Irawan, Aca Hasanuddin MT, Jeremias Nyangoen, Viktor Hermanto, Kardy Syaid, R.Mono Wangsa, H.Febriyono, Surya Lawu Saputra, Sofyan Joel, Janaim Rachmat, dll.
Setiap angkatan pendidikan, AKSINEAS mengemas 13 mata pelajaran dengan kualitas “akademi”, yang diperlukan oleh seorang calon aktor, antara lain: olah tubuh, olah vokal, komposisi, blocking, imajinasi, Konsentrasi, teknik dasar akting, movement, improvisasi, pengetahuan sinematografi, teknik dasar akting, teknik audisi & casting, aksi & reaksi, analisa skenario & karakter, tata rias, kostum, pengadeganan dan praktek shooting.
Kami yakin, belum ada sekolah akting yang mengerahkan sutradara pengajar sebanyak di AKSINEAS. Siswa diberikan materi pelajara praktis, efektif dan begitu lengkap. Dengan bertatap muka dengan belasan sutradara yang juga masih aktif berproduksi di berbagai PH, merupakan kelebihan lain AKSINEAS.
Dengan demikian, para siswa berkesempatan berkenalan langsung dengan sutradara atau boleh dikatakan “casting sambil belajar”. Artinya, jalan pekerjaan (jembatan network) setelah selesai mengikuti pendidikan kilat, akan lebih mudah.
DIKLAT PENULISAN SKENARIO FILM/SINETRON
DI samping Sekolah akting, AKSINEAS juga menyelenggarakan Pendidikan & Latihan Penulisan Skenario Film dengan para penulis senior, antara lain : Armantono, Aris Nugraha, Kardy Syaid, Elizabeth Lutters, Jeremias Nyangoen, Wahyu HS & Patrick Devo. Profesi penulisan, jangan dipandang sebelah mata. Banyak penulis yang sukses, tidak hanya dari segi populeritas tetapi juga penghasilannya cukup menggiurkan.
Sistem Diklat Penulisan Skenario film juga dilakukan dalam format 12 x pertemuan x 3 jam ( 36 jam). Peserta disuguhi 40% teori dan 60% praktek. Alumni Diklat akan diarahkan untuk memahami teknik penulisan skenario, baik untuk film layar lebar, sinetron, dokumenter dan iklan. Para alumni juga diarahkan ke berbagai PH untuk mendapatkan job penulisan, agar ilmu dan bakatnya langsung bisa tersalurkan. Dengan hanya mengeluarkan biaya total sebesar Rp. 2,5 juta, peserta telah diberikan dasar penulisan yang kami anggap cukup untuk mulai melakoni profesi menjadi Penulis Skeneario.
AKSINEAS didirikan dan bernaung di bawah bendera PT. SUAKA KREASINEMA, sebuah PH yang eksis sejak 1992. Bagi lulusan AKSINEAS, juga disediakan wadah koperasi (bukan artist agency biasa) bernama BINTANG TERPADU INDONESIA (BTI ENTERPRISE) yang dipersiapkan untuk mempromokan dan menyalurkan lulusan AKSINEAS agar bisa unjuk kebolehan di depan kamera dan kerja dalam produksi film/sinetron.
Dengan demikian, AKSINEAS jelas unggul, tidak hanya berpikir mendidik tetapi setelah selesai DIKLAT, ikut mencarikan jalan penyalurannya.
DIKLAT AKTING & SKENARIO hanyalah langkah awal AKSINEAS, sebelum merambah ke bidang pendidikan calon SINEAS (sutradara, kameraman, editor dan manajemen produksi). Insya Allah, tahun depan, bagi calon aktor dan sineas yang serius dan ingin meraih gelar resmi di bidang ilmu yang dipelajarinya, AKSINEAS akan menjadi AKADEMI yang membuka kelas pendidikan setingkat Diploma I, II dan III. Do’akan aja!
Terebosan awal Aksineas untuk mencukupi kebutuhan pemain sekarang ini, adalah mempersingkat waktu ajar mengajar dengan system DIKLAT (13 x 3 JAM/sesi dalam waktu 2 bulan) dan system REGULER (23 x 3 JAM/ sesi dalam 4 bulan) Dengan demikian, seorang calon aktor, kalau hanya ingin menguasai dasar akting, memiliki dana terbatas dan tidak sabar untuk menggeluti profesi sebagai pemain film/sinetron, ia tidaklah wajib mengikuti pendidikan sampai 1 tahun bahkan 3 tahun dengan biaya puluhan juta rupiah. AKSINEAS telah memadatkan pelajaran dalam format Diklat (39 jam) dan Reguler (70 jam) dengan biaya cukup terjangkau ( Rp. 2,5 juta untuk program Diklat dan Rp.2,5 juta untuk program Intermediate) (SINGKAT WAKTU, HEMAT BIAYA & TEPAT SASARAN) “Kalau bisa menembak merparti dengan katapel, kenapa harus menggunakan meriam?“
Nah, kalau AKSINEAS Acting School adalah tempat yang tepat bagi anda yang ingin belajar DASAR AKTING FILM dan ikut mempermudah jalan bagi kamu-kamu yang ingin masuk ke dunia film, TUNGGU APA LAGI, BUNG?
- KAMI ADALAH PIONER, SATU-SATUNYA DI INDONESIA !!!
Hub.STUDIO I AKSINEAS : Blok F. No. 11, Ruko Sentra Eropa, Kota Wisata, Cibubur, Jawa Barat. Phn. 021-84976035, 36536522, 36536533, 08129086288 web. www.aksineas.com




















